Monday, November 21, 2005

Semua hanya titipan....

Salah satu temanku sedang bersedih. Namanya Hendi.
Dia anak tunggal,Asal dari luar jawa, Ayahnya sudah lama meninggal, dan sampai minggu lalu dia kuliah di bandung dibiayai ibunya yang punya ladang kelapa sawit dan menjadi guru.
Namun seminggu yang lalu ( Aku lupa berapa tanggal tepatnya ) ibunya mendadak meninggal karena stroke ( untunglah temanku sedang berada di sisi ibunya saat beliau meninggal ).
Yang jadi permasalahan kemudian, Saat Hendi sudah kembali ke Bandung untuk meneruskan kuliah,
dia bertanya padaku, " apa yang harus kulakukan untuk meneruskan kuliahku ? Untuk makan, aku masih bisa bergantung dari tabungan dan dana kesejahteraaan ibuku, tapi untuk melanjutkan membayar kuliah semester berikutnya aku tidak punya ide. Apalagi saat ini aku masih benar2 pusing dan sedih karena kematian ibuku, 8erz, rasanya aku ingin mati saja"

Sesaat aku bisa memahami bagaimana ruwetnya pikiran yang sedang dia miliki. Aku rasa, aku juga belum tentu akan bisa berpikir jernih jika aku berada dalam posisinya. Saat aku secara otomatis "menjelma" menjadi dia (Ini kebiasaanku kalau orang sedang bercerita padaku), otakku langsung berhenti berputar, yang ada cuma kehampaan, Yang memang bisa berujung pada pernyataan " Buat apa aku hidup lagi ? ".

Sungguh menakutkan, aku saja yang sebenarnya bukan yang tertimpa musibah, tidak bisa memutar otak, bagaimana dengan orang yang tertimpa musibah itu sendiri ? Hal ini yang membuatku makin ketakutan dengan keseriusan temanku yang berucap ingin mati saja.

Untunglah, dalam hatiku tiba-tiba muncul perasaan yang mungkin aneh bagi orang lain, ada sebersit perasaan yang menyatakan " Menarik ! tiba-tiba harus sendirian di dunia ini di umur segini, apa yang harus kulakukan pertama ? "
Kalau aku sampai melontarkan kata "menarik !" itu di tengah pembicaraan, sepertinya aku akan langsung ditimpuki teman2 yang lain yang ikut tenggelam dalam pembicaraan tersebut.
Tapi jujur, kata "menarik !" itulah yang kemudian membawaku kembali ke kesadaran, dan bisa sedikit menjernihkan pikiran, sehingga ucapan sukis (salah satu sahabatku) sebelumnya bisa terngiang di kepalaku. " Semua hanya titipan Allah "

Tiba2 kepalaku menjadi sedikit enteng, dan akhirnya bisa mem-break down permasalahan
dan bisa menentukan langkah2 pertama yang harus Hendi ambil untuk meneruskan hidupnya. Aku tahu, bagi sebagian orang, saran-saranku terkesan sedikit memaksa dia, terkesan tidak simpati. Tapi aku kemudian menegaskan, bahwa simpati tidak cukup untuk membantu dia tetap hidup. Dia harus mengerti, bahwa semua yang dia punya hanya titipan Allah, dan hidup harus jalan terus !

Tidak ada cobaan yang Dia berikan yang melebihi kemampuan manusia. Jika Hendi memang harus ditinggal ibunya, itu berarti dia dinilai untuk sanggup meneruskan hidupnya dan meneruskan cita-cita ibunya untuk membuat dia jadi sarjana. (permintaan terakhir ibunya sebelum meninggal adalah agar Hendi bisa mencapai sarjana). Bukan kemudian berniat mati. Dia oleh sedih, dia boleh nelangsa, tapi bukan berarti dia boleh mati !
hidup kita juga adalah titipan Allah, biarlah Dia yang menentukan, kapan waktunya untuk dikembalikan.

Mudah-mudahan, Hendi diberi kesabaran oleh-Nya, dan mampu meneruskan hidupnya.
Sesungguhnya cobaan ini, bisa membuat dia menjelma menjadi manusia yang kuat dan sukses. Dan aku akan berada 100% di belakangnya untuk membantu.

8erz'05

3 comments:

Anonymous said...

Maka nikmatilah, dengan berpikir positif atas apa pun yang kau
jalani, atas apapun yang kau hadapai, atas apapun yang kau terima,
karena dengan begitu engkau akan bahagia. Maka nikmatilah, karena ini
pun akan berlalu jua. Maka nikmatilah, karena rasa puas dan syukur
atas apa yang telah kita raih akan menghadirkan ketenteraman dan
kebahagiaan. Sedang ketidakpuasan hanya akan melahirkan penderitaan.
Maka nikmatilah, karena ini pun akan berlalu. Maka nikmatilah, agar
engkau tidak kehilangan hikmah dan keindahannya, saat segalanya telah
tiada. Maka nikmatilah, agar tak hanya derita yang tersisa saat semua
telah berakhir jua.


Percayalah, semua ini akan berlalu, maka mengapa harus memikirkan
sesuatu yang tak ada, namun suatu saat pasti akan hadir jua? Sedang
hal itu hanya akan membuat kita kehilangan keindahan hari ini karena
mencemaskan sesuatu yang belum pasti.

Anonymous said...

Maling-maling Itu ...

Ini bangsa para maling. Lihatlah fakta ini: setiap tahun Rp 300
triliun uang negara dilahap para koruptor!
Jumlah Rp 300 triliun --seperti diungkap Direktur Pendidikan dan
Pelayanan Masyarakat Komisi Pemberantas Korupsi, Eko Sucipto, di
Makassar pekan lalu-- luar biasa besarnya. Luar biasa pengkhianatan
telah dilakukan koruptor itu. Marilah kita hitung: apabila setiap
tahun Rp 300 triliun uang negara mereka lahap, maka setiap hari rata-
rata Rp 822 juta uang rakyat masuk ke perut koruptor!

Kemudian, hitung pula ini: jumlah orang miskin, menurut data Badan
Pusat Statistik (BPS) sebanyak 62 juta jiwa. Jumlah itu kemungkinan
lebih besar. Nah, jika Rp 822 juta yang dilahap para koruptor itu
digunakan untuk orang-orang miskin, maka seluruhnya akan mendapatkan
pendidikan dan pengobatan gratis. Bangsa ini, melalui orang-orang
miskin tersebut, akan merebut keindahan masa depan.

Tapi, para koruptor --para pengkhianat orang-orang miskin-- itu,
telah merampas anak-anak orang miskin dari sekolahnya, merampas
orang-orang miskin dari kesehatan yang harus didapatkannya. Para
koruptor itu melahap masa depan orang-orang miskin (tentu juga masa
depan bangsa ini) dan mengubur mereka dalam perutnya --yang tak
pernah bisa penuh.

Para koruptor itu telah menutup hati nuraninya, menutup mata dan
telinganya, dan menutup rasa malunya dari orang-orang miskin. Namun,
membuka mulut dan perutnya lebar-lebar --seperti sumur tanpa dasar.
Mereka ada di mana-mana, mengepung, dan membuat banyak orang sesak
napas serta putus asa. ''Korupsi di Indonesia terjadi hampir di
semua sektor, terutama pada sektor penegakan hukum dan sektor
usaha,'' kata Direktur Penelitian Regional Asia dari The
International Transperancy, Peter Rooke.

Tahun 2005 ini, menurut survey Transperancy International di Berlin,
indeks korupsi di Indonesia berada di peringkat ke 137 dari 159
negara di dunia. Sedangkan indeks persepsi korupsi tahun ini 2,2.
Ini meningkat 0,2 dari indeks tahun lalu. Perubahan tersebut,
menurut Rooke, belum signifikan, namun setidaknya ada upaya
pemerintah dalam memberantas korupsi.

Ini artinya, pemerintah dan semua pihak yang tak ingin bangsa ini
tenggelam, harus lebih keras lagi. Zhu Rongji, ketika memimpin Cina,
percaya betul pada efektivitas hukuman mati terhadap koruptor. Zhu
tak peduli siapa koruptor itu, apa jabatannya di pemerintah maupun
di partai, tetap dia kejar dan menyiapkan peti mati untuk mereka.
Agaknya Zhu paham betul pepatah Cina kuno: untuk menakuti seribu
ekor kera, bunuh seekor ayam!

Ini negara para maling. Mereka mengambil apa saja, mengambil uang
anak-anak sekolah, mengambil uang orang-orang yang sedang sakit,
mengambil tanah para petani, mengambil uang untuk rumah ibadah. Di
antara mereka ada yang pintar berkhotbah tentang moral, pergi ke
tempat suci, seakan Tuhan tidak tahu apa yang mereka lakukan. Mereka
bersembunyi di balik baju kebesaran hakim dan seakan Tuhan tidak
dapat melihat perbuatannya.

Mereka, para maling itu, adalah penjahat. Mereka sadar akibat yang
ditimbulkannya, namun tak hendak menghentikannya. Mereka sepergi
minum air laut, terus merasa haus. Para maling itu mengambil yang
bukan haknya, bukan karena lapar melainkan karena mereka tak punya
hati nurani. Mulut dan perut mereka layaknya sumur tanpa dasar, apa
saja masuk, tak peduli sampah dan kotorannya sendiri.

eighterz said...

??

komentarnya sedikit ngga nyambung nih anastasia, tapi oke lah, pandangan anda tentang negara ini bisa valid juga.

to anonymus, sekali-kali pakai nama dong
:)

Above all, we get a point, dimanapun kita berada, bagaimanapun kondisi kita, jika kita bisa mencari sisi positif dari suatu situasi dan kejadian, kita bisa menikmatinya dan bersyukur. malah kalau boleh dibilang, saat kita sakit misalnya, bersyukurlah karena kita masih bisa merasakan sakit
tersebut. saat negara ini lagi collapse, bersyukurlah karena kita masih punya negara untuk diperbaiki, dikembangkan dan untuk dibawa menuju kejayaannya !

8erz